
Menulis Puisi Cinta bersama Sapardi Djoko Damono
Cafe Momento | Sabtu, 21 Februari 2009|
jam 15.00 - 17.30 WIB
| Liputan Kedaulatan Rakyat utk Sembari Minum Kopi Obrolan Soal Novel Etnografi |
| 17/05/2008 05:27:44 MENULIS tidak perlu berpikir jenis apakah tulisan itu nantinya, apakah itu jadi novel etnografi atau novel-novel yang lain. Tugas penulis kalau itu kebetulan antropolog melakukan kritik terhadap kebudayaan, sehingga kalau seseorang sudah menetapkan diri menjadi penulis akan menjadi kritis terhadap kebudayaan. Soal apakah itu diterima terserah kepada publik pembacanya. "Jadi, novel etnografi itu bukan hanya karena menulis tentang suku-suku bangsa," ujar antropolog Kris Budiman penerima penghargaan Sastra Indonesia, Yogyakarta, 2007 dalam obrolan 'Sembari Minum Kopi' yang digelar Tim Kreatif Regol tentang 'Menulis Novel Etnografi' di Kopi-Kopi Jl Kartini, Sagan yang juga menghadirkan sastrawan Putu Fajar Arcana, Sabtu (10/5). Dalam menulis novel etnografi Kris mengatakan, tidak bisa menerima begitu saja fakta yang didapat. Karya etnografi juga tidak harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan le bih mengisahkan kepada kelompok lain. Supaya tulisan tidak kering maka penulis novel etnografi harus kaya dengan imajinasi. "Kalangan mahasiswa sekarang sulit berimajinasi," ujar Kris. Dijelaskan oleh Managing Director Tim Kreatif Regol, Suluh Pratitasari, novel etnografi karya fiksi mampu mendeskripsikan kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu. Etnografi merupakan istilah dalam antropologi untuk menunjuk pada laporan penelitian tentang suatu masyarakat dan kebudayaan yang ditelitinya. "Penelitian antropologi untuk menghasilkan karya etnografi ini juga sangat khas, kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk menyebut metode penelitian antropologi atau metode etnografi," ujar Suluh (Asp)-k |
YOGYAKARTA, KOMPAS - Dengan menuliskan kebudayaan lain, tulisan etnografi diharapkan dapat menjadi kritik terhadap kebudayaan. Untuk itu, diperlukan riset yang mendalam agar tulisan tersebut bisa bersikap kritis. Demikian disampaikan antropolog sekaligus pengajar program studi Pascasarjana Kajian Budaya dan Media Kris Budiman dalam diskusi bertema Menulis Novel Etnografi yang diadakan Komunitas Regol, di Yogyakarta, Sabtu (10/5).
Penulis tidak bisa taken for granted (menerima begitu saja fakta yang diterima) dalam menulis novel etnografi, perlu melakukan riset dan proses familiarisasi, ujar Kris. Kris menuturkan, perlu kemampuan sebagai seorang etnografer dalam menuliskan sebuah karya etnografi. Karya etnografi berbicara mengenai metode dan hasil kerja yang dilakukan seorang antropolog, tuturnya. Dalam menulis novel etnografi, lanjut Kris, pengarang juga perlu menjaga jarak agar tidak terjadi stereotip terhadap obyek yang ditulis. Untuk itu, penulis mesti membebaskan diri dari etnosentrisme atau pandangan yang berpangkal pada kebudayaan sendiri sehingga dapat meremehkan kebudayaan lainnya.
Jika memberikan jarak terlalu jauh terhadap obyek yang ditulis, akan memberikan kesan yang buruk-buruk saja terhadap pembaca. Sedangkan jarak yang terlalu dekat, juga akan memberikan kesan sebaliknya, katanya. Menurut Kris, tulisan etnografi juga tidak mesti harus bercerita mengenai suatu suku bangsa, melainkan lebih mengisahkan kepada kelompok lain (the other). Pandangan bahwa etnografi mengisahkan suatu suku bangsa ini perlu direvisi, tuturnya.
Agar sebuah novel etnografi enak dibaca, Kris menambahkan, perlu imajinasi yang kuat dari sang pengarang. Jangan hanya berkutat dalam pembedaan antara fakta dan fiksi. Yang terpenting, perlu karakterisasi dan kecermatan penyusunan plot sehingga pesan novel tersebut bisa tersampaikan, tuturnya. Sastrawan dan jurnalis Putu Fajar Arcana mengatakan imajinasi sangat penting untuk dimiliki seorang pengarang dalam membuat suatu karya. Tanpa imajinasi, tulisan hanya jadi paparan fakta yang kering, ujarnya. Putu menuturkan, untuk memperkuat daya imajinasinya, seorang penulis memerlukan banyak referensi dengan membaca berbagai karya sastra. Selain itu, Putu juga mengingatkan mengenai pentingnya membaca kamus untuk memperkaya diksi sebuah tulisan. Penulis memerlukan kemampuan dalam menyusun sebuah gramatika bahasa dengan diksi yang penuh imajinasi, ucapnya. (A06)

fakta, alias beda dengan karya fiksi. Namun para antropolog postmodernis bahwa karya etnografi tak ubahnya sebuah novel, hasil imaginasi seorang antropolog tentang masyarakat yang ditelitinya.